
SINARPOS.com | SUMENEP, JATIM – Layanan Puskesmas Gapura, Kabupaten Sumenep, Propinsi Jawa Timur dirasa tidak maksimal. Keluarga pasien dikecewakan oleh petugas yang diduga kurang profesional dan kurang mengutamakan sisi kemanusiaan. Pelayanan ini tentunya tidak sejalan dengan tagline Bupati Sumenep “Bismillah Melayani”.
Keluarga pasien bernama Junaedi, mengkisahkan peristiwa yang membuat dirinya menilai buruk dan kecewa terhadap pelayanan Puskesmas Gapura.
Menurutnya, Nayla adik dari Junaedi yang berusia sekitar 7 tahun mengalami sakit yang sebelumnya diketahui tidak mau makan sekira tiga hari, suhu badannya panas serta mual – mual ,muntah dan kepalanya pusing. Mengetahui kondisi adiknya yang mengkwatirkan, lantas membawanya ke Puskesmas Gapura sekira Pukul 10.30 wib hari Senin, 15 Desember 2025.
Tiba di Puskesmas sambil menggendong Nayla ( pasien ) masuk ke ruang UGD dengan harapan adiknya cepat mendapatkan penanganan medis. Akan tetapi sungguh sangat tidak diharapkan, tiba – tiba ada petugas memintanya untuk mendaftar terlebih dahulu ke petugas loket tanpa memperdulikan keadaan pasien.
Tiba di loket, seorang petugas meminta identitasnya dan selanjutnya menyampaikan harus bayar karena lain kecamatan, tanpa menjelaskan secara Jabar. Sontak Dia kaget karena setahu Junaedi mestinya tidak ada biaya sebab ada program pemerintah UHC, namun karena ingin adiknya cepat ditangani oleh medis, Dirinya langsung menyanggupi.
Selanjutnya petugas memberikan lembaran kertas untuk disampaikan kepada petugas ruangan pemeriksaan. Singkat cerita, setelah menyampaikan keluhan – keluhan adiknya, terus diperiksa panasnya, berat dan tingginya oleh petugas medis.
Saat Dirinya menunggu hasil pemeriksaan, tiba – tiba petugas menyodorkan resep obat untuk ditebus, dan selanjutnya disuruh pulang.
Merasa tidak puas dengan penanganan petugas yang memeriksa, Junaedi masuk keruangan dan menanyakan kenapa kok disuruh pulang apa tidak dirawat inap ? Sebab menurutnya adiknya perlu rawat inap karena tidak mau makan, panas, muntah dan pusing.
Setelah menerima penjelasan dari petugas, maka dengan sangat terpaksa Junaedi membawa pulang adiknya setelah sebelumnya menebus obat resep dari Puskesmas.
Tiba di rumah sekira Pukul 12.30 wib terus memberikan obat sirup yang baru ditebus dari apotik.
Sebelum Ba’da Ashar Dirinya terima telepon dari Ibunya bahwa kondisi adiknya kian buruk dan selanjutnya membawanya ke Puskesmas Dungkek dan ternyata pelayanannya terasa berbeda, dimana pasien langsung di tangani lebih dulu daripada administrasinya.
Perlu diketahui, Nayla pasien usia sekira 7 tahun yang sebelumnya di Puskesmas Gapura hasil pemeriksaannya tidak perlu rawat inap, tapi saat dibawa ke Puskesmas Dungkek, pasien perlu rawat inap hingga berita ini tayang.
Dikonfirmasi media, Kepala Puskesmas Gapura mengakui bahwa Nayla memang pasien dari Puskesmas yang Ia pimpin. Selanjutnya, Ia menjelaskan tentang prosedur dan aturan tentang pasien BPJS, bahwa UHC berlaku untuk semua warga Sumenep di Fasilitasi kesehatan manapun, namun bagi pasien rawat jalan harus sesuai F-KTP.
Ditanya soal pelayanan petugas yang dinilai mengabaikan pasien saat di ruang UGD dan lebih mengutamakan administrasi atau pendaftaran, seperti yang dialami pasien a.n, Nayla warga kecamatan Dungkek, Bu Kapus ( Suci, nama panggilan ) menyatakan salah, kendati demikian Dirinya masih menyangkal dengan kalimat ” kalau itu benar, tapi saya kan tidak tahu yang terjadi kemarin,” sanggahnya.
Namun Bu Kapus menyampaikan terima kasih atas kedatangan media bersama keluarga pasien. Dengan begitu dapat menjadi evaluasi bersama serta edukasi untuk semuanya.






