Search for:
Profil  KH. Muhammad Ali bin H. Abdul Kodir Ayah DR. H. Supian Suri M.M Calon Wali Kota  Depok  2025 – 2030

Profil KH. Muhammad Ali bin H. Abdul Kodir Ayah DR. H. Supian Suri M.M Calon Wali Kota Depok 2025 – 2030

SINARPOS.COM

Depok, sinarpos.com– KH Mohammad Ali bin H. Abdul Kodir, lahir di Bogor, tgl, 17- Agustus 1932, Wafat 9 Juli 2011.Mulai sejak usia 6 tahun KH Mohammad Ali mondok dan menimba ilmu di Pondok Pesantren Maulana Hasanudin Pondok Manggis, Bojong gede, Kab Bogor, sampai usia 21 tahun.

Beliau belajar dengan Al Ustadz Raden Idrus bin Raden Sajeli, yang populer dengan sebutan mualim UNG. Selanjutnya diminta oleh almarhum gurunya untuk belajar di Mama Ajengan Ma’sum Dredet Kota Bogor selama 4Th. Almarhum Mama Ma’sum adalah exponen PUI di era tahun 1955.

Beberapa waktu pernah mondok di ponpes Almasturiyah dan berguru dengan Almagfur Kiayi Ajengan Masturo dan tidak bisa melanjutkan karena ayahandanya H Abd Kodir sakit permanen. Dan akhirnya pulang untuk mengurusnya sampai ahir hayatnya.

Sambil mengurus orang tua yang sakit beliau kembali ke ponpes maulana Hasanudin tahun 1966 atas restu gurunya R. Idrus dan Mama Ma’sum.

Lalu beliau mendirikan Madrasah.yang diberi nama Alhidayah, mengingat belum adanya lembaga pendidikan di kampungnya dan lembaga itu eksis hingga saat ini. Dan merintis juga membangun Masjid ATTAQWA Kampung Sawah dan Masjid Baiturrahman Kampung Jati hingga masjid Al Barkah di Tahun 1981.

Semasa di ponpes tahun 1955 beliau bergabung dengan Pemuda Ansor, bahkan penulis pernah melihat peci hitam Ansor dan emblemnya dari bahan beludru yang sudah luntur.

Awal era Orde baru tahun 1971 beliau aktivis NU bahkan penulis dan teman di madrasah di ajarkan menggambar tulisan logo NU pada mata pelajaran KHOT

Sejak 1969 selaku ustad kampung beliau masih aktif belajar sebagai santri kalong kepada beberapa guru diantaranya, Saidul Walid Habib Abdurahman Asegaf, Habib Ali Albahar, dan sering belajar menemui KH R Muhamad Falak bin Abas Bogor, ikut juga mengaji dengan Habib Mustofa Al Adha dan aktif di pengajian kwitang. Beberapa pengajian yang dirintis dikampung sejak 1956 masih ada hingga kini dilanjutkan oleh KH Mudrikah.

Di era 1970 beliau aktif di madrasah sebagai Kepala Sekolah. Tahun 1977 beliau diminta pemerintah sebagai Pjs. Kepala Desa. karena terjadi pemekaran Desa Kalibaru dan Desa Kalimulya hingga tahun 1995..

Sebagai kepala Desa yang tanpa diberi modal aset oleh pemerintah maka beliau menjadikan salah satu ruangan Madrasah sebagai kantor dan mengangkat tiga orang guru sebagai staf Desa.

Perjuangannya membangun Desa penuh dengan penuh perjuangan yang maha berat, baik dari masyarakatnya maupun inprastruktur. Sebagian masyarakat kalimulya saat itu belum mengenal ajaran agama, sehingga perjudian dan maksiat lainnya menjadi kebiasaan lama.

Beliau lembut namun tegas menjalani tugasnya sebagai Umaroh, sekaligus juga sebagai Ulama, terus merintis pengajian di semua sudut Desa, bahkan tugasnya sebagai kepala Desa lebih sedikit dari guru ngaji.

Dekan pendekatan Akhlak dan komunikasi yang inten kepada masyarakat mampu menggerakkan masyarakat berkontribusi dengan membeli tanah, dan sebagian di wakafkan. Hingga mampu memberikan tanah untuk satu kantor Kepala Desa, bangunan Puskesmas, rumah dinas dokter, rumah dinas babinsa, dan Babinmas, serta tanah untuk 6 bangunan SD yang sekarang SD Kalimulya 1 sampai Kalimulya 6.

Lalu membangun satu MI Alhidayah 2 yang terletak sekarang di Kalimuya. Proses pengadaan tanah untuk sarana diatas penulis masih merasakan sedih karena ibunda Hj Lani Nihayati istri beliau sering sedih karena diminta kalung emasnya dijual untuk membeli tanah SD memang tak seluruhnya dari beliau namun ada partisipasi masyarakat yang diajak berkonstribusi.

Tanah kantor kel Kalimulya saat ini adalah mutlak pemberian warga yang bernama H Daing.pemberian itu bersifat pribadi seluas 1500 meter , namun beliau gunakan lagi untuk Kantor kelurahan.

Tahun 1995 beliau membangun sebuah Madrasah Tsanawiyah Alhidayah dengan mewakafkan tanah halaman rumahnya sells 1500 meter. Namun dalam Perjalanannya madrasah tersebut di berikan kepada Negara, mengingat ada SK Mentri Agama hingga 3 tahun, Kemenag Kab. Bogor belum mampu membeli tanah beliau dengan penuh keikhlasan.Akhirnya menyerahkan tanah beserta gedung 6 local dengan 326 siswa yang sekarang MTsN Kota Depok.

Demikian sekilas napak sejarah Alm. KH Muhammad Ali Semoga Allah SWT menerima semua amalnya. Tentu tulisan sangkat singkat ini bersifat abstraksi bisa saja banyak hal yang belum tercakup.”Semoga adik kami DR . H SUPIAN SURI .MM Allah ijabah hajatnya menjadi calon Wali Kota Depok 2025-2030″ ungkapnya. H Ma’sum kakak Supian Suri.(Syam).

Tuliskan Komentar Anda Tentang Informasi Ini