Search for:
Pentingnya Keadilan Dalam Sebuah Pernikahan dan Tuntutan Suami yang di Tinggal Nikah

Pentingnya Keadilan Dalam Sebuah Pernikahan dan Tuntutan Suami yang di Tinggal Nikah

SINARPOS.com – BONDOWOSO >> Merasa Tertipu Dan Ditinggal Nikah Lagi, Seorang Suami di Bondowoso Minta Keadilan hukum nikah ulang setelah nikah siri, yang tentunya berkaitan dengan pandangan hukum terhadap pernikahan ini.

Perihal apakah sah nikah siri dalam Islam, berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), nikah siri dinyatakan sah karena telah memenuhi syarat dan rukun nikah, seorang wanita yang masih dalam ikatan perkawinan dilarang melakukan pernikahan, Perkawinan dengan wanita bersuami adalah bertentangan dengan Hukum Islam dan karenanya perkawinan tersebut haram, tidak sah dan berdosa apabila dilakukan.

Namun berbeda dengan yang dilakukan oleh R inisial salah satu warga Kel. Blindungan Kec. Bondowoso, yang saat ini masih menjadi istri sah B inisial walaupun statusnya nikah siri.

Menurut keterangan si B dia tidak pernah merasa sakit hati karena ditinggal oleh R, tetapi Kita sebagai umat Islam setidaknya memahami akan hukum Islam, kalau memang mau nikah lagi biar sama-sama memiliki kekuatan hukum, harus juga secara prosedural yaitu mengajukan Isbat cerai ke PA, supaya kedepan sama-sama enak tidak digantung-gantung seperti ini,” Katanya.

Bahkan ia juga merasa kecewa karena B sakit dan R merasa trauma dengan suami terdahulu, bernama alm sarnubi seorang ASN warga sukowono yang sudah meninggal dunia pada tahun 2016, R juga menyandang status janda cerai mati dan mendapat gaji pensiunan.

Selama 6 tahun hidup berumahtangga antara B dan R walaupun hanya nikah siri dengan alasan menyelamatkan gaji pensiunan, ahirnya pada bulan Januari 2018 B dan R menikah siri di Tamansari dan yang menikahkan bernama ustadz Wahid yang masih teman sekolahnya R semasa di MTS Bondowoso tahun 1983. Pengakuan dari B, ia merasa tertipu, karena saat itu B disuruh ke Banyuwangi rumah anaknya, namun sesampainya di Banyuwangi justru R mengirim pesan WhatsApp yang meminta kepada B untuk pisah dengan R, trauma dengan suaminya yang dulu karena sakit-sakitan .

” Mas sepeda motornya sudah tak jual..kita pisahan saja dan kita cari uang sendiri-sendiri, kalau mas pulang ke Bondowoso lagi sebaiknya jangan tinggal dirumah Blindungan lagi,” ungkap R, yang di sampaikan si B kepada kami.

” Saya tidak pernah bertengkar dan baik – baik saja malah waktu mau berangkat ke Banyuwangi dia masih sempat antar saya ke terminal bus, itu yang membuat saya kecewa sama dia, bahkan semua baju yang Saya punya dititipkan pada temen saya, hal inilah yang membuat saya kecewa.” Ucapnya.

Perpisahan R dan B yang saat ini berada dirumah suami barunya mengaku belum menikah dengan seorang lelaki yang berinisial S warga desa sukowiryo Kec. Bondowoso.

Melalui salah satu Kasun bernama Dullahia Saudara R mengaku belum nikah dengan S, Saya disini hanya sebatas bekerja, lagian saya sudah tidak ada hubungan dengan yang namanya B, paparnya

“Kalau Saya nikah pasti akan memberitahu Pak. Kasun, lagian Saya sama B sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.” Ucapnya pada Kepala Dusun setempat, padahal R menurut tetangga sekitarnya sudah berbulan-bulan tinggal dirumah S bahkan aktifitas layaknya seorang istri dia lakukan.
Ada pepatah sepandai- pandainya menyimpan bangkai toh akhirnya bakal tercium juga baunya.

Pewarta: Yudi

Tuliskan Komentar Anda Tentang Informasi Ini