Tangis Delima di Tengah Program Gizi Negara

Sinarpos.com

Sinarpos.com – Indonesia merupakan sebuah negeri yang digadang-gadang sebagai negeri lumbung padi. Ini sebagai gambaran kesejahteraan masyarakat terpenuhi dengan baik. Sehingga masyarakatnya tidak akan mengenal stunting, karena minimnya lapangan pekerjaan, krisis pangan dan lain sebagainya.

Pagi berkabut di pinggiran kota Bandung, di sebuah rumah kecil nan kumuh, lebih tepatnya gubuk bambu, terdengar rengekkan balita memelas, sesekali menangis sesekali berbicara patah-patah. “Mak, sudah dua hari adek tidak makan Mak, adek lapar Mak,” suara itu lagi-lagi terdengar parau.

“Iya adek, Mak belum dapat uang hari ini untuk beli makanan, di luar mendung seperti mau hujan, kalau Mak pergi dan kehujanan, jualan kerupuk Mak akan basah dan tidak laku dijual. Sabar yaa adek, tunggu cuaca cerah, nanti Mak beli beras dan kita masak.” Ucap Mak Siti sambil memeluk tubuh ringkih nan mungil Delima.

“Iya Mak, Mak kan punya teman-teman Mak, apa mereka punya pekerjaan untuk Mak, biar kita tidak kelaparan Mak,” ucap Delima, usianya empat tahun setengah, tetapi bahasa dan sikapnya seperti orang dewasa. Maklum Delima tumbuh dengan getirnya kehidupan, kehidupan menjadikannya lebih cepat dewasa.

Mak Siti menghela nafas, “sepertinya untuk saat belum adek, teman-teman Mak juga sering mengeluhkan kondisi di negeri tercinta kita, yang katanya kaya raya, negeri lumbung padi, tapi kita penghuninya kelaparan, kata teman-teman Mak, kita tuh seperti tikus yang hampir mati di lumbung padi.” Ucap Mak Siti nampak berat untuk berucap.

Jaka kakak dari Delima yang usianya sudah menginjak remaja, menyimak pembicaraan Mak dan adeknya, wajahnya penuh dengan kekesalan, ia pun berkata, “Mak, Jaka tidak sekolah, tapi Jaka mengerti dengan semua ucapan Mak, tetangga jauh kita yang seumuran Jaka kan sekolah, rumahnya bagus, kalau berangkat ke sekolah diantar motor, Jaka hanya melihat dari jauh. Jaka tahu Mak, mereka dapat MBG dari pemerintah, padahal mereka orang kaya Mak.” Ucap Jaka wajahnya nampak kesal.

“Sementara kita, hampir mati Mak, kelaparan,” ucapnya lagi sambil menghela nafas. “Hemmh, iya Nak, kemarin Mak mendengar obrolan ibu-ibu pengajian membahas ini,” ucap Mak serius. “Mak ceritakan ke Jaka yaa,” tambah Mak serius. “Iya Mak,” jawab Jaka.

Kata teman Mak, cerita ini dari berita yang Dikutip dari detik.com, program MBG yang dijalankan saat liburan sekolah yang menuai sorotan. Komnas Perlindungan Anak Surabaya menilai pelaksanaan MBG pada masa liburan berpotensi tidak efektif. Ketua Komnas Perlindungan Anak Surabaya, Syaiful Bachri menyoroti rendahnya kemungkinan anak datang ke sekolah untuk mengambil MBG. Apalagi sebagian siswa memanfaatkan libur untuk pulang kampung atau mengikuti kegiatan lain di luar rumah.

” Saya yakin jarang sekali anak yang mau ke sekolah cuma sekadar mengambil satu porsi makanan, apalagi kalau jarak rumahnya jauh dan ada yang melakukan liburan atau kegiatan mengisi liburan sekolah,” ujar Syaiful, Kamis 25 Desember 2025.

Program MBG telah berlalu sekitar satu tahun, namun sayangnya kondisi stanting di negeri ini belum usai. Justru semakin hari makin memburuk. Terlebih berita keracunan masal akibat MBG, ompreng yang mengandung babi, SPPG yang tidak standar, budgeting anggaran besar berdampak pada pengurangan anggaran bidang lain yang turut mewarnai masalah MBG. Tidak meratanya porsi MBG dari daerah satu dengan yang lainnya, ada yang bagus dan ada yang sekadarnya. Tentu semua ini menjadi masalah berat lagi-lagi untuk masyarakat yang menjadi korban.

Pada dasarnya MBG adalah program populis kapitalistik sehingga yang dipentingkan adalah terlaksananya program, bukan manfaatnya untuk kemaslahatan masyarakat dan tidak menyelesaikan masalah stanting atau pun yang lainnya yang berkaitan dengan pemenuhan gizi. Bahkan MBG nampak terlalu dipaksakan untuk terus berjalan meski banyak permasalahan krusial di lapangan.

Hal ini menunjukkan bahwa MBG bukan untuk kepentingan rakyat, tetapi kepentingan penguasa dan pengusaha yang mengelola dapur SPPG yang kebanyakan adalah kroni dari penguasa yang ada. Program MBG menunjukkan bahwa penguasa kapitalistik tidak amanah terhadap anggaran negara yang strategis.

“Katanya begitu nak,” ucap Mak serius. “Iya Mak Jaka kesal, adek nangis lapar, aku lapar, Mak juga, sementara Bapak sudah meninggal, harusnya kan kita diurus pemerintah yaa Mak, malah MBG tidak tepat sasaran, kacau pula tidak jelas, Jaka pusing Mak. Jaka maunya diterapkan aturan Islam di negara kita ini. Jaka juga suka ikut kajian remaja masjid sering membahas yang begini Mak, kata Akang Ihsan yang suka memberikan materi untuk remaja masjid kalau diterapkan syariat Islam itu, masyarakat bisa sejahtera Mak,” ucap Jaka penuh semangat. “Begini kata Akang Ihsan,” ucap Jaka.

“Di dalam sistem Islam berbeda karena Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin. Setiap kebijakan adalah untuk kemaslahatan rakyat dan sesuai syariat. Visi negara adalah raa’in sehingga kebijakan harus dalam rangka melayani kebutuhan rakyat, bukan untuk kepentingan pengusaha atau untuk popularitas penguasa. Sebagaimana hadits Rasulullah saw.

Kullukum raa’in wa kullukum mas’ulun ‘an raa’iyyatihi” (Setiap kalian adalah pemimpin/pengurus, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya), diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Kebutuhan gizi rakyat dipenuhi secara integral melibatkan semua sistem yang ada. Sistem pendidikan mengedukasi tentang gizi. Sistem ekonomi memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Negara menyediakan lapangan pekerjaan sehingga kebutuhan gizi keluarga bisa dipenuhi oleh kepala keluarga. Negara menjamin ketersediaan bahan pangan dengan harga terjangkau sehingga makanan bergizi mudah diakses oleh rakyat. Intinya negara ada junnah atau perisai untuk rakyat dan rakyat aman dalam naungannya. Rasulullah saw. bersabda :

Sesungguhnya al-Imam (pemimpin) itu junnah, orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung (dari musuh) dengannya” (HR. Bukhari & Muslim).”

“Begitu Mak katanya, semoga Allah segera menolong kita ya Mak,” ucap Jaka penuh harap, mendengar percakapan Mak dan Abangnya, Delima tertidur pulas, seakan di dongengin akhirnya rasa laparnya dibawa mimpi.

Oleh Sumiati
Pendidik Generasi dan Mahasiswi Jurusan PAI

BERITA TERKAIT

BERITA KHUSUS (VIDEO STREAMING)

Kasus Penyerobotan Lahan 1.564 Hektare Mukhtar & Srimahyuni: Ratu Prabu 08 Surati Polres dan Kuasa Hukum Desak Polres Bertindak Tegas

Kasus Penyerobotan Lahan 1.564 Hektare Mukhtar & Srimahyuni: Ratu Prabu 08 Surati Polres dan Kuasa Hukum Desak Polres Bertindak Tegas

Exhumasi Imam Komaini Sidik: Bongkar Tabir Kebohongan Kasus Pembunuhan di Rimbo Bujang

Exhumasi Imam Komaini Sidik: Bongkar Tabir Kebohongan Kasus Pembunuhan di Rimbo Bujang

GIIAS 2025

Belasan Media Nasional Kawal Kasus Kematian Imam Komaini Sidik: Dugaan Pembunuhan Terencana, Hanya Satu Tersangka Ditahan?

Belasan Media Nasional Kawal Kasus Kematian Imam Komaini Sidik: Dugaan Pembunuhan Terencana, Hanya Satu Tersangka Ditahan?

Keluarga Korban Pembunuhan Imam Komaini Sidik Desak Pengungkapan Komplotan Pelaku: “Kami Percaya Ini Bukan Ulah Satu Orang”

Keluarga Korban Pembunuhan Imam Komaini Sidik Desak Pengungkapan Komplotan Pelaku: “Kami Percaya Ini Bukan Ulah Satu Orang”

Kantor Penasehat Hukum Hendri C Saragi, SH Desak Otopsi Jenazah Imam Komaini Sidik Oleh Tim Medis TNI: Mengungkap Tabir Kematian yang Penuh Tanda Tanya

Kantor Penasehat Hukum Hendri C Saragi, SH Desak Otopsi Jenazah Imam Komaini Sidik Oleh Tim Medis TNI: Mengungkap Tabir Kematian yang Penuh Tanda Tanya
error: Maaf.. Berita ini diprotek