Relasi Guru–Murid yang Retak dan Hilangnya Ruh Pendidikan

Sinarpos.com

Sinarpos.com – Dunia pendidikan kembali tercoreng,  sekolah yang seharusnya menjadi tempat penanaman nilai moral, pembentukan kepribadian dan rasa aman dalam menimba ilmu pengetahuan beralih fungsi menjadi arena pertarungan. Sungguh ironi, ditengah maraknya aksi kekerasan antar siswa, muncul kembali oknum guru terlibat dalam aksi fisik dengan siswanya sendiri.

Insiden kekerasan yang bermula dari tindakan kekerasan yang dilakukan guru, memicu reaksi berantai hingga berujung pada pengeroyokan guru oleh siswa SMK di Jambi (news.detik.com 17/01/26).

Kasus guru dikeroyok murid bukan sekadar emosi sesaat, namun menjadi problem serius yang menambah daftar kelam dunia pendidikan. Relasi guru-murid yang semestinya dibangun di atas keteladanan dan penghormatan, berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan.

Di satu sisi, rasa hormat murid kepada guru tak lagi nampak. Mereka berani bertindak tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab. Disisi lain, terdapat oknum guru yang kerap menghina, merendahkan, hingga label negatif yang melukai psikologis murid. Pada akhirnya kedua pihak terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan.

Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan. Terlebih sepanjang tahun 2025, telah tercatat lebih dari 1000 kasus kekerasan di sekolah dan perguruan tinggi. Bentuknya bukan hanya fisik, tapi juga verbal (suarasurabaya.net 22/01/26).

Pemerintah memang telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, sebagai upaya pemerintah menciptakan ruang yang kondusif bagi tumbuh kembang peserta didik, dan mencegah aksi kekerasan di lingkungan sekolah. Mekanisme aturan ini melibatkan ruang partisipasi empat pusat pendidikan. Di antaranya keluarga, sekolah, masyarakat, dan media dalam mencegah dan mengatasi kekerasan pada warga sekolah (m.antaranews.com 12/01/26).

Namun mekanisme tersebut akan menghadapi banyak sekali tantangan dan minim tingkat keberhasilan, jika pemerintah hanya fokus pada perbaikan masalah cabang dan tak sampai pada akar persoalan.

Kerusakan yang  terus terjadi tak bisa hanya dipandang sebagai masalah individual, tapi harga yang harus dibayar akibat penerapan sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan pendidikan dari tuntunan Islam.

Dalam sistem pendidikan sekuler, agama tak lagi difungsikan sebagai asas pendidikan. Akibatnya, guru dan murid kehilangan fitrah dan tak mampu mengendalikan stimulus negatif yang diberikan lingkungan.

Selain itu pendidikan sekuler hanya berorientasi pada capaian prestasi akademik dan siap 

bekerja. Maka wajar jika guru hanya menjadikan murid sebagai objek penilaian semata. Bahkan tak jarang, orientasi bekerja yang dikejar telah membuat pendidikan kesulitan dalam mencerdaskan generasi. Mereka berpikir untuk apa belajar, jika pintar tak menjadi jaminan mereka mendapatkan pekerjaan. Nilai dan ijazah bisa dibeli tak mesti duduk bertahun-tahun di bangku sekolah.

Orientasi materi inilah yang menghasilkan lingkungan belajar minim dari penanaman adab dan pembentukan kepribadian luhur. Bobot pelajaran agama Islam di sekolah atau kampus diberi ala kadarnya. Akibatnya generasi mengalami krisis akut meskipun kehidupan terlihat semakin modern dan maju secara fisik.

Berulangnya problem guru dan murid mengharuskan perlu adanya komparasi sistem pendidikan secara sistemis. Sistem pendidikan Islam menjadi alternatif untuk memutus mata rantai problematika pendidikan.

Islam memandang pendidikan bukan sekedar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab.  Murid dididik untuk memuliakan guru, sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan hinaan. Guru adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar.

Dalam Islam, pendidikan bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam. Kurikulum yang disusun berorientasi pada upaya tercapainya tujuan pendidikan. Keluarga yang menjadi gerbang awal pendidikan, harus mampu berperan dalam mendidik anak-anaknya dari sebelum – hingga mumayiz.

Saat memasuki fase pendidikan formal, setiap anak akan dididik sesuai kurikulum yang sejalan dengan tujuan pendidikan.  Akidah Islam menjadi landasan utama dalam pembentukan karakter. Sistem pendidikan Islam memahamkan bahwa kesadaran hubungan manusia dengan Allah menjadi kontrol terbaik atas seluruh perbuatan manusia. Hadirnya rasa takut kepada Allah, akan mendorong ketaqwaan individu. Keimanan inilah yang akan menjadi landasan kuat dalam menuntut ilmu hingga ia mencapai usia balig.

Menginjak usia balig, fondasi keimanan akan menguatkan pemahaman tentang ilmu agama maupun ilmu kehidupan. Fondasi keimanan yang mereka miliki menjadikan mereka sosok yang khas. Ketertarikan pada ilmu sangat besar, disamping ketakutan mereka pada Sang Pencipta. Sehingga adab dan akhlak yang menjadi perkara mendasar senantiasa menyertai mereka. Paham bahwa adab merupakan perkara sebelum ilmu. Imam Malik berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, engkau jadi mudah memahami ilmu. “

Inilah rahasia kegemilangan peradaban Islam hingga menjadi mercusuar pendidikan global pada masanya. Satu-satunya sistem pendidikan yang mampu menghadirkan output pendidikan yang berkarakter takwa sekaligus menguasi berbagai ilmu kehidupan. Wallahualam

Oleh: Siti Eva Rohana, S.Si

BERITA TERKAIT

BERITA KHUSUS (VIDEO STREAMING)

Kanwil Bea Cukai Bali, NTB, NTT Catat Kinerja Positif: Penerimaan Lampaui Target, Pengawasan Semakin Intensif Sepanjang 2025

Kasus Penyerobotan Lahan 1.564 Hektare Mukhtar & Srimahyuni: Ratu Prabu 08 Surati Polres dan Kuasa Hukum Desak Polres Bertindak Tegas

Kasus Penyerobotan Lahan 1.564 Hektare Mukhtar & Srimahyuni: Ratu Prabu 08 Surati Polres dan Kuasa Hukum Desak Polres Bertindak Tegas

Exhumasi Imam Komaini Sidik: Bongkar Tabir Kebohongan Kasus Pembunuhan di Rimbo Bujang

Exhumasi Imam Komaini Sidik: Bongkar Tabir Kebohongan Kasus Pembunuhan di Rimbo Bujang

GIIAS 2025

Belasan Media Nasional Kawal Kasus Kematian Imam Komaini Sidik: Dugaan Pembunuhan Terencana, Hanya Satu Tersangka Ditahan?

Belasan Media Nasional Kawal Kasus Kematian Imam Komaini Sidik: Dugaan Pembunuhan Terencana, Hanya Satu Tersangka Ditahan?

Keluarga Korban Pembunuhan Imam Komaini Sidik Desak Pengungkapan Komplotan Pelaku: “Kami Percaya Ini Bukan Ulah Satu Orang”

Keluarga Korban Pembunuhan Imam Komaini Sidik Desak Pengungkapan Komplotan Pelaku: “Kami Percaya Ini Bukan Ulah Satu Orang”
error: Maaf.. Berita ini diprotek