Menutup Celah Wabah Kekerasan Terhadap Anak dalam Game Online

Sinarpos.com

Sinarpos.com – Kembali, peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh anak menghebohkan publik Indonesia. Terbunuhnya seorang ibu berinisial F (42) oleh anaknya AL (13) di Kota medan.

Seorang ibu yang sudah tergeletak di dalam kamar dengan mengalami 26 luka tikam 10 Desember kemarin. Kasus ini menampar para pengambil kebijakan di negeri ini ternyata kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak terus terjadi.

Selanjutnya, Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak menyatakan ada tiga motivasi yang mendorong AL melukai ibunya. Pertama, AL melihat kekerasan yang dilakukan ibunya terhadap kakaknya dan ancaman menggunakan pisau terhadap ayah. Kedua, melihat kakak yang dipukuli ibunya menggunakan sapu dan tali pinggang.

Ketiga, sakit hati game online dihapus. Karena AL kerap kali memainkan game yang menggunakan pisau dan menonton serial anime dengan adegan kekerasan menggunakan senjata tajam.

Fenomena kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak, serta didukung oleh industri hiburan dan media pada realitanya telah secara masif terus merasuki generasi.

Anak-anak hari ini terus dibombardir oleh konten-konten negatif yang merusak pemikiran dan perilaku mereka hingga mereka terjauhkan dari adab dan aturan agamanya. Konten kekerasan, pornografi pornoaksi, ide-ide sekuler liberal dengan mudahnya diakses anak-anak melalui game online.

Dampak negatifnya sangat nyata. Sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana nasib bangsa ini jika anak-anak hari ini makin akrab dengan game online yang menjadi inspirasi kekerasan dan pembunuhan ?

Selanjutnya, sebagian besar orang mungkin akan bertanya dan heran apa penyebab seorang anak bisa membunuh ibu kandungnya? Jawabannya semua malapetaka yang merusak hubungan kasih sayang seorang anak terhadap ibunya hari ini bermuara pada tidak dijadikannya hukum-hukum Islam sebagai pedoman dalam kehidupan.

Nilai-nilai Islam ditengah keluarga sedikit demi sedikit luntur. Di sisi lain derasnya arus globalisasi yang hakekatnya adalah kapitalisasi dan liberalisasi, turut menggerus nilai-nilai Islam dalam keluarga.

Tak dipungkiri, kehidupan sekuler-kapitalistik yang mendominasi kehidupan saat ini telah sukses mengantarkan anak-anak diambang kehancuran.

Mereka yang seharusnya menjadi generasi pembangun masa depan, telah binasa masa depannya karena menjadi pelaku sekaligus korban kriminalitas rendahan. Benarlah perkataan imam AIGhazali, “jika anak dibiasakan berbuat jahat dan dibiarkan begitu saja seperti membiarkan binatang ternak, maka ia akan sengsara dan binasa, dosanya pun akan dipikul oleh orang tua dan walinya.’’

Para penguasa muslim harus menyadari bahwa untuk menutup celah tindakan kriminalitas ini sesungguhnya hanyalah Islam.

Sejarah gemilang peradaban Islam terbukti menjamin kehormatan dan keamanan masyarakat. Sistem hukum, sosial dan politik ekonominya berpadu menjamin tumbuh kembangnya generasi emas yang kuat, produktif dan bertakwa. Hukuman bagi pembunuh akan diqishash, yakni balas bunuh, atau membayar diyat sebanyak 100 ekor unta.

Dengan hukuman seperti ini,orang-orang yang akan melakukan tindakan kriminal akan berpikir beribu-ribu kali sebelum melakukannya dan ini hanya bisa dilakukan dengan kembali padaIslam. Maka, untuk menjamin kehormatan dan keamanan masyarakat cukup dengan Islam. Wallahu A’lam Bishshawab

Oleh : Laela Faridah S.Kom.I

BERITA TERKAIT

BERITA KHUSUS (VIDEO STREAMING)

Kasus Penyerobotan Lahan 1.564 Hektare Mukhtar & Srimahyuni: Ratu Prabu 08 Surati Polres dan Kuasa Hukum Desak Polres Bertindak Tegas

Kasus Penyerobotan Lahan 1.564 Hektare Mukhtar & Srimahyuni: Ratu Prabu 08 Surati Polres dan Kuasa Hukum Desak Polres Bertindak Tegas

Exhumasi Imam Komaini Sidik: Bongkar Tabir Kebohongan Kasus Pembunuhan di Rimbo Bujang

Exhumasi Imam Komaini Sidik: Bongkar Tabir Kebohongan Kasus Pembunuhan di Rimbo Bujang

GIIAS 2025

Belasan Media Nasional Kawal Kasus Kematian Imam Komaini Sidik: Dugaan Pembunuhan Terencana, Hanya Satu Tersangka Ditahan?

Belasan Media Nasional Kawal Kasus Kematian Imam Komaini Sidik: Dugaan Pembunuhan Terencana, Hanya Satu Tersangka Ditahan?

Keluarga Korban Pembunuhan Imam Komaini Sidik Desak Pengungkapan Komplotan Pelaku: “Kami Percaya Ini Bukan Ulah Satu Orang”

Keluarga Korban Pembunuhan Imam Komaini Sidik Desak Pengungkapan Komplotan Pelaku: “Kami Percaya Ini Bukan Ulah Satu Orang”

Kantor Penasehat Hukum Hendri C Saragi, SH Desak Otopsi Jenazah Imam Komaini Sidik Oleh Tim Medis TNI: Mengungkap Tabir Kematian yang Penuh Tanda Tanya

Kantor Penasehat Hukum Hendri C Saragi, SH Desak Otopsi Jenazah Imam Komaini Sidik Oleh Tim Medis TNI: Mengungkap Tabir Kematian yang Penuh Tanda Tanya
error: Maaf.. Berita ini diprotek