Search for:
Budaya Hari Raya Nyepi, Jadi Momentum Intropeksi Masa Lalu Menuju Hidup yang Baru

Budaya Hari Raya Nyepi, Jadi Momentum Intropeksi Masa Lalu Menuju Hidup yang Baru

DENPASAR || Indonesia memiliki kaya akan tradisi dan budaya , kearifan lokal dengan ciri khasnya masing-masing. Seperti halnya Bali yang begitu kental dengan tradisi dan budayanya. Pada tahun ini, tepatnya Jum’at ( 8/3/2024) . Tiga hari lagi umat Hindu akan merayakan hari suci Nyepi tahun Saka 1946.

Tahun Saka atau Hari Nyepi bagi umat Hindu, identik dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian sebagai sebuah momentum untuk introspeksi atas hal-hal yang telah dilalui selama setahun ke belakang serta memulai kembali kehidupan ke depannya dengan hati yang bersih.

Menjelang Hari Nyepi, dua hingga empat hari sebelumnya, umat Hindu secara serentak akan melakukan ritual penyucian diri dan lingkungannya ke pusat-pusat tirta amerta (air suci) yang dikenal dengan nama upacara melasti.

Melasti merupakan suatu upacara yang dilakukan oleh umat Hindu guna menyucikan atau membersihkan jagat (Bumi), menyucikan bhuana agung (alam semesta) beserta isinya sebelum dilaksanakannya tawur kesanga pada hari Pengerupukan yaitu sehari sebelum Nyepi.

Budaya Hari Raya Nyepi, Jadi Momentum Intropeksi Masa Lalu Menuju Hidup yang Baru

Melasti berasal dari dua kata yaitu mala dan asti. Mala itu artinya kotoran, sedangkan asti memiliki arti membuang. Yang kemudian dapat dijelaskan secara sederhana bahwa melasti itu membuang segala kekotoran agar menjadi bersih dan suci kembali.

Kata melasti juga sering disebut mekiis (melis). Dalam agama Hindu, lambang pembersihan adalah lis yang biasanya digunakan oleh umat Hindu pada saat acara keagamaan untuk melakukan pembersihan. Sehingga dapat diartikan bahwa melis/mekiis/melasti itu merupakan pembersihan atau penyucian.

Secara sastra, yaitu dalam Lontar Sunarigama, upacara melasti dilaksanakan empat atau tiga hari sebelum hari suci Nyepi. Namun ada juga beberapa wilayah yang melaksanakan upacara melasti dua hari sebelum Nyepi.

” Gede pratanayasa ( gesan )dan keluarga sedang melakukan ritual upacara Melasti pada hari ini menjelaskan , mungkin saja terjadi karena adanya desa kala patra. Yang dapat dijabarkan bahwa desa itu desa, kala itu waktu, dan patra itu keadaan. Jadi, mungkin saja desa yang bersangkutan memiliki sebuah alasan khusus sehingga tidak memungkinkan melakukan melasti empat atau tiga hari sebelum Nyepi.

Di balik perbedaan waktu upacara melasti tersebut, tujuan utama dari melasti itu tetap sama yakni pembersihan atau penyucian jagat (bumi) menjelang hari suci Nyepi ‘ ungkapnya

Budaya Hari Raya Nyepi, Jadi Momentum Intropeksi Masa Lalu Menuju Hidup yang Baru

Sejatinya, pelaksanaan upacara melasti bertujuan untuk meningkatkan rasa bhakti kepada Tuhan agar senantiasa diberikan kekuatan, menghanyutkan segala penderitaan masyarakat, menghilangkan kotoran yang ada dalam diri, serta kerusakan alam semesta.

“Secara filosofis, melasti merupakan kegiatan menyucikan bhuana agung dan bhuana alit. Termasuk membersihkan dan menyucikan pratima atau yang lainnya yang berada di semua pura. Disucikan ke pusat-pusat tirta amerta suci, yaitu di antaranya ke laut karena laut merupakan sumber tirta amerta,” kata Nyoman Suwija.

Jika diartikan secara sederhana, upacara melasti secara filosofis memiliki arti atau makna yaitu nunas (meminta) tirta amerta, penyucian bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit dalam menyambut tahun baru saka, tepatnya pada tanggal satu sasih kadasa yaitu hari raya Nyepi.


(Yanti**)

1 Comment

  1. Semoga Dengan pelaksanaan upacara Melasti, kedamaian, serta keharmonisan antar semua ciptaanNya selalu terjaga 🙏🥰

Tuliskan Komentar Anda Tentang Informasi Ini