
Sinarpos.com-DENPASAR — Sebagai orang Bali, I Dewa Nyoman Budiasa memahami bahwa kebudayaan selalu tumbuh dari akar lokal yang kuat.
Namun demikian baginya, akar itu tidak pernah membuat kebudayaan menjadi sempit. Justru dari sanalah ruang perjumpaan yang lebih luas terbuka.
Pandangan tersebut ia sampaikan dalam Pagelaran Budaya Nusantara di Istana Taman Jepun, Denpasar Timur, Minggu malam awal Januari. Acara ini dihadiri 139 orang dari beragam latar belakang.
Malam itu, Reog Ponorogo dan jaranan dari Jawa Timur tampil di hadapan publik Bali. Bagi Budiasa, yang akrab disapa Ajik DNB, perjumpaan tersebut tidak dimaknai sebagai pertemuan dua budaya yang saling berjarak, melainkan sebagai kelanjutan dari sejarah panjang relasi Bali dan Jawa yang telah membentuk wajah kebudayaan Nusantara.
“Bali sejak lama tumbuh dari perjumpaan,” ujarnya. “Keterbukaan itu bukan hal baru bagi kami.”
Dalam perjalanan sejarahnya, Bali tidak berkembang dalam ruang yang tertutup.
Jejak hubungan dengan Jawa, terutama sejak masa Majapahit, membentuk struktur seni, ritus, dan nilai yang masih hidup hingga kini.
Karena itu, menghadirkan kesenian Jawa di Bali tidak ia pandang sebagai langkah menjauh dari identitas lokal, melainkan sebagai penegasan atas watak Bali yang inklusif.
Cara pandang tersebut menjadi dasar perannya sebagai pembina Yayasan Duwe Nyama Bali.
Melalui yayasan ini, DNB mendorong kegiatan kebudayaan yang berangkat dari kekuatan lokal Bali, menariknya tetap terbuka pada dialog Nusantara, sebagai upaya merawat persatuan dalam keberagaman.
Menurutnya, rasa kebangsaan tidak tumbuh dengan meniadakan identitas daerah, melainkan melalui proses saling mengenal dan saling menghormati. Dalam konteks itu, kebudayaan menjadi jembatan yang paling alami.
Istana Taman Jepun, yang berada di tengah Kota Denpasar, ia pandang sebagai ruang publik yang merepresentasikan semangat tersebut.
Sebuah tempat di mana budaya Bali bertemu dengan tradisi lain tanpa kehilangan pijakan.
Menjelang akhir acara, percakapan antarpengunjung masih berlanjut.
Bagi DNB, keberhasilan pagelaran ini terletak pada kesadaran bersama bahwa merawat budaya Bali sekaligus berarti merawat Indonesia, karena keduanya tidak pernah benar-benar terpisah.
“Dari Bali, kita belajar tentang Indonesia,” katanya.






