Search for:
Amping Parak, Menuju Desa Wisata Indonesia 2024

Amping Parak, Menuju Desa Wisata Indonesia 2024

Pessel, Sinarpos.comAnugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Tahun 2024 menjadi ajang pembuktian bagi pengelola desa wisata Nagari (Desa-red) Amping Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) dalam pengembangan kepariwisataan. 

Setelah dinyatakan lolos seleksi administrasi dan pengisian kuesioner di Jadesta – sebuah platform ADWI milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, dalam waktu dekat akan dilanjutkan dengan Kunjungan Visitasi dari kementerian tersebut. 

Dalam rangka menerima Kunjungan Visitasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI itu maka Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) menurunkan tim liputan untuk melihat apa saja persiapan nominsi penerima ADWI Tahun 2024 dari Kabupaten Peaisir Selatan ini. 

Berikut, wawanca ekslusif dengan Haridman, pengelola desa wisata Amping Parak, Sutera – Pesisir Selatan tersebut. 

Untuk Penilaian ADWI Tahun 2024, Apa Saja Persiapan Yang Dilakukan ? 

Pertama, kita mengadakan rapat bersama OPD Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan. Hasil rapat tersebut kita mendapatkan sejumlah donasi / pembiayaan, antara lain dari CSR Bank Nagari dan BRI dan sejumlah pembiayaan dari OPD terkait. Saat ini, telah berjalan pembiayaan dari Bank Nagari, dan BRI yang rencananya akan survey dalam minggu ini. 

Kemudian, Dinas Perumahan Pemukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Kabupaten Pesisir Selatan juga didaulat untuk membantu menyiapkan sarana dan prasarana kebesihan; tong sapah dan toilet. Karena, bagian kebersihan ini termasuk salah satu aspek yang dinilai nantinya. Selain itu, para pelaku wisata di desa/nagari akan segera diundang oleh pemerintah nagari, untuk melakukan pertemuan pelaku wisata. 

Jadi, pelaku utamanya tidak hanya Pokdarwis tetapi seluruh pelaku wisata, termasuk pengusaha kuliner, fashion dan seniman. Semua pelaku wisata tersebut akan kita inventarisir termasuk kelompok ibu-ibu kreatif, perajut atau penyulam yang mengelola sampah jadi barang yang bermanfaat, memproduksi aneka barang kerajian, semua kita libatkan dalam rangka menyatukan persepsi dan tindakan menghadapi pelaksanaan visitasi atau penilaian desa wisata nantinya.

Apakah Ditingkat Kelompok dan Nagari Sudah Dilakukan Pembersihan Dibeberapa Tempat ?

Dalam waktu dekat untuk lima kategori yang akan dinilai akan dilakukan finalisasi, dimulai dari daya tarik wisata yang sebenarnya sudah mulai dilakukan perbaikan, tetapi memang belum seratus persen karena pembiayaannya masih menunggu persetujuan.

Kemudian, kelembagaan, melakukan penataan lembaga desa wisata, dan digital kreatif dimana saat ini masih menunggu intervensi dari pemerintah kabupaten atau Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo). Kemudian, homestay dan toilet di kawasan juga perlu dilakukan pembenahan karena prasarana penunjang ini juga akan dinilai oleh tim ADWI nantinya. 

Apa Saja Yang Menjadi Unggulan Dalam Penilaian ADWI Nantinya ? 

Dalam penilaian ADWIN ini, benar tidak ada membedakan antara unggulan atau tidak unggulan. Seluruhnya, lima kategori penilaian ADWIN itu akan kita disiapkan secara maksimal. Termasuk dalam penilaian resiliensi yaitu menyangkut pengurangan resiko bencana, dan pengelolaan sampah. 

Pengurangan resiko bencana dan pengelolaan sampah ini merupakan salah satu sisi menarik yang akan ditonjolkan dalam penilaian. Hal ini dimungkinkan karena di Nagari Amping Parak sudah punya lembaga dan regulasi tentang penangulangan bencana, dan telah memiliki unit pengelolaan sampah. 

Bahkan untuk sisi kelembagaan, Nagari Amping Parak sudah pernah mengikuti lomba kelembagaan di tingkat propinsi Sumatera Barat. Artinya, telah ada pembenahan – pembenahan. Namun,  untuk penilaian ini perlu dilakukan pemantapan – pemantapan terhadap semua kategori tersebut.

Bagaimana Teknisnya Sehingga Kelompok Sadar Wisata Nagari Amping Parak ini layak mendapatkan Awar Desa Wisata Nasional Tahun 2024 ? 

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata mempunyai platform, namanya Jadesta (Jaringan Desa Wisata). Sebelum lolos ke lima puluh besar, di tahap kuisioner ada sejumlah pertanyaan yang harus diisi (dijawab) sesuai dengan realitas di lapangan. Artinya, apabila sudah tersaring hingga lima puluh besar, seluruh persyaratan teknis administrasi telah kita disiapkan. 

Selanjutnya, tinggal lagi melakukan pembenahan-pembenahan terhadap sarana prasarana seperti tricking bagi pengujung di kawasan, atau bagian penting yang harus ada karena memang termasuk fasilitas umum pariwisata dan 70 persen paket wisata Desa/Nagari Amping Parak ini berada di pinggir pantai dan kawasan muara. Sisanya, barulah menyebar ke berapa wilayah desa atau kampung-kampung. 

Bilamana tricking di kawasan hutan bakau ini tidak dibenahi, tentu akan terasa hambar bagi pengunjung saat melintasi hutan bakau tersebut. Dan tricking yang ada sekarang telah rusak sehinga perlu dibangun lagi. Upaya yang kita lakukan secara bersama – sama ini, semoga bisa memperkuat wisata di kawasan konservasi ini dalam penialaian ADWI Tahun 2024 nantinya. 

Apa Harapannya Dalam Penilaian ADWI Nantinya ? 

Nagari Amping Parak dan Lembaga Pengelola Pariwisata di Desa/Nahari Amping Parak tertumpu harapan kepada pemerintah, dari tingkat kabupaten/kota, propinsi dan pusat untuk mendapingi dan fasilitasi, dari persiapan, fasiltas peralatan, termasuk sumber daya manusia hingga penilaian saat visitasi nantinya. 

Sehingga destinasi Nagari Amping Parak di Pesisir Selatan ini dapat melangkah lebih maju, atau lolos dari lima puluh besar dan menjadi salah satu desa dengan wisata terbaik di Indonesia. 

Berkaca pada penilaian ADWI tahun lalu, seluruh desa yang mengikuti penilaian desa wisata nasional ini akan diundang oleh Kemetrian Pariwisata pada acara puncak pemberian Awar Desa Wisata Indoensia, ADWI Tahun 2024. Harapan, tentunya, Desa Amping Parak, Juara I untuk kategori desa wisata perintis. 

Sebab, Award Desa Wisata Indonesia ini terbagi atas empat ketegori; Perintis, Berkembang, Maju dan Mandiri. Dari lima besar desa wisata itu ada tiga desa dari Sumatera Barat, dan dua diantaranya adalah perintis; yaitu Nagari Amping Parak Pesisir Selatan dan Desa Gadih di Kabupaten Lima puluh Kota. 

Visitasi Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Pesisir Selatan, Wendi (Kepala), Wildan (Kabid Informasi Komunikasi Publik) dan Yendi (JFH) sebagai tim liputan di lokus Konservasi Amping Parak, Senin (1/7), kemarin membukikan adanya aktivitas  yang dilakukan oleh komunitas tersebut dengan serius, berupa pekerjaan perbaikan sarana dan prasarana, sebagai fasilitas umum pariwisata di kawasan yang akan mengikuti ajang penilaian ADWI Tahun 2024 ini. 

Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Kabupaten Pesisir Selatan, Wildan, menjelaskan, pihaknya menjadi salah satu suporting system dalam pelaksanaan kunjungan visitasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia di Amping Parak nantinya. Dalam rencana kunjunhan visitasi tersebut, Diskominfo akan melakukan serangkaian fasilitasi atau identifitakasi kebutuhan-kebutuhan desa wisata Amping Parak seperti penyediaan jaringan wifi untum akses internet, pengembangan aplikasi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar mampu mengelola publikasi melalui platform digital website Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) milik Kementerian Kominikasi dan Informatika Republik Indonesia. Juga mewujudkan digital kreatif dan literasi digital di kawasan tersebut. 

Dikatakan, Pemerintah Kabupaten sangat apresiasi terhadap komunitas peduli lingkungan di Amping Parak dalam pembangunan kepariwisataan, hingga bersaing di ingkat nasional. 

“Tentu, patut kita syukuri dan apresiasi atas raihan prestasi menjadi bagian dari limapuluh besar titik destinasi di Indonesia,”tuturnya. 

Apakah Dampaknya Bagi Pariwisata Pesisir Selatan ? 

Pesisir Selatan memiliki banyak destinasi yang potensial, dan Nagari Amping Parak sendiri memiliki pantai yang eksotik yang ditumbuhi hutan bakau (magrove) dan cemara laut. Pantai dengan pasir putihnya yang bersih sebagai zona pendaratan, bertelur dan menetaskan anak (tukik), hingga dilepaskan lagi ke laut. Aksi pelepasan anak tukik ke laut di pantai ini juga menjadi akraksi menarik dan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke sini. 

Program konservasi dan vegetasi pantai yang didukung pemerintah melalui program BPSB (Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut), BUMN dan sejumlah lembaga funding telah menyulap kawasan yang mulanya tandus ini menjadi hutan bakau, sehingga potensial dikembangkan menjadi destinasi wisata dengan minat khusus, pendidikan dan penelitian.

Komunitas peduli lingkungan yang mengelola kawasan ini juga memiliki konsistensi dalam pengembangan pariwisata, dan kegiatan resiliensi dampak bencana. 

“Torehan prestasi yang diraih oleh kelompok peduli lingkungan Nagari Amping Parak dalam pengembangkan desa wisata ini diharapkan jadi inspirasi bagi pengelola desa wisata atau destinasi wisata lainnya di Pesisir Selatan,” ujarnya. 

Resiliensi resiko bencana, (Aldunce, 2014), diartikan sebagai kemampuan individu, komunitas, unit sosial atau organisasi yang mampu untuk mengadopsi, melakukan perbaikan terhadap kondisi bencana.

Inovasi yang berlatar belakang bencana ini dilakukan sebagai salah satu upaya dalam mengurangi resiko pada saat terjadinya bencana alam. Sebab, daerah di kawasan barat Sumatera ini memiliki potensi bencana alam seperti gempa dan stunami dengan intensiitas dan tingkat resiko yang tinggi.(Don)

Tuliskan Komentar Anda Tentang Informasi Ini