
Pagi itu halaman sekolah terasa berbeda. Angin Bandung berembus pelan di antara pepohonan yang menaungi salah satu SMP plus di Jawa Barat. Di sudut halaman, dua siswa berdiri di depan sebuah laptop yang menampilkan grafik dan kode sederhana.
“Ini yang disebut kecerdasan buatan?” tanya Rafi sambil menatap layar.
“Iya,” jawab Naila. “Katanya mesin bisa belajar dari data.”
Rafi terdiam sejenak. Lalu ia bertanya lagi, lebih pelan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri. “Kalau begitu… nanti mesin bisa menggantikan guru?”
Naila tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar yang terus bergerak menampilkan simulasi program. Pertanyaan itu menggantung di udara, sederhana tetapi dalam.
Hari itu sekolah mereka memang menjadi tuan rumah Workshop AI Ready ASEAN bertema “Empowering Students for the Future: AI Literacy for a Digital ASEAN.” Para pejabat hadir meninjau kegiatan tersebut. Sekitar 500 pelajar mengikuti workshop yang bertujuan memperkenalkan literasi kecerdasan artifisial kepada generasi muda agar lebih siap menghadapi era digital (Portal Pemerintah Provinsi Jawa Barat, 5 Maret 2026).
Inisiatif seperti ini tentu memberi harapan. Dunia pendidikan memang tidak bisa menutup diri dari perkembangan teknologi. Kemampuan memahami teknologi digital kini menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda. Pengenalan kecerdasan artifisial dapat membantu siswa mengenal cara kerja dunia modern yang semakin dipengaruhi oleh data dan sistem otomatis.
Namun pendidikan selalu lebih luas daripada sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Pendidikan menyentuh dimensi yang lebih dalam, yaitu cara manusia berpikir, nilai yang ia pegang, dan arah peradaban yang ia bangun. Karena itu, setiap inovasi dalam pendidikan selalu membutuhkan refleksi.
Teknologi dapat membantu proses belajar. Platform digital memudahkan akses pengetahuan. Sistem berbasis data membantu analisis pembelajaran. Semua ini memberi manfaat yang nyata.
Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting. Apakah teknologi tetap menjadi alat bagi pendidikan, atau perlahan pendidikan justru bergerak mengikuti arus teknologi itu sendiri?
Dalam banyak negara, perkembangan teknologi pendidikan sering berjalan berdampingan dengan kepentingan industri digital. Perangkat lunak pembelajaran, sistem analisis data siswa, hingga platform pendidikan daring berkembang pesat sebagai bagian dari ekosistem ekonomi digital global. Tanpa disadari, ruang kelas dapat berubah menjadi ruang baru bagi ekspansi teknologi.
Situasi ini tidak selalu bermakna negatif. Inovasi tetap diperlukan. Akan tetapi pendidikan memerlukan arah yang jelas agar tidak kehilangan jiwanya. Guru bukan sekadar penyampai informasi. Guru membentuk cara berpikir, membimbing karakter, dan menghadirkan keteladanan yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Di sinilah pentingnya memandang pendidikan dengan perspektif yang lebih mendasar.
Pandangan Islam
Dalam pandangan Islam, ilmu tidak hanya dipahami sebagai alat untuk menguasai teknologi. Ilmu adalah jalan untuk mengenal kebenaran dan membangun kehidupan yang bermakna. Al-Qur’an memberikan penghormatan yang tinggi kepada orang yang berilmu.
Allah Swt. Berfirman. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu merupakan fondasi kemuliaan manusia. Ilmu bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi cahaya yang membimbing arah kehidupan.
Rasulullah saw. juga menegaskan pentingnya ilmu dalam kehidupan umat. Beliau bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 224).
Ketika ilmu dipahami sebagai kewajiban, maka pendidikan tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada dinamika pasar atau perubahan teknologi semata. Pendidikan memerlukan perhatian serius dari negara agar setiap orang dapat menunaikan kewajiban menuntut ilmu dengan mudah.
Sejarah peradaban Islam memberikan contoh yang menarik. Pada masa Umar bin Khattab, para guru diberi gaji sangat besar oleh negara agar mereka dapat mengajar dengan tenang. Dukungan terhadap ilmu juga tampak dalam penghargaan kepada para ulama dan penulis. Lingkungan seperti itu melahirkan tradisi intelektual yang kuat dan berkelanjutan.
Kebijakan semacam ini menunjukkan satu prinsip penting, bahwa pendidikan harus berdiri di atas fondasi nilai yang kokoh. Teknologi dapat berkembang. Metode belajar dapat berubah. Namun tujuan pendidikan tetap sama, yaitu membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab terhadap masyarakatnya.
Penutup
Karena itu, pengenalan kecerdasan artifisial di sekolah dapat menjadi langkah yang baik selama tetap ditempatkan dalam kerangka yang tepat. Teknologi harus menjadi alat yang membantu manusia berkembang, bukan arah yang menentukan nilai pendidikan itu sendiri.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan mesin yang hadir di ruang kelas. Masa depan pendidikan ditentukan oleh nilai yang memandu penggunaan ilmu.
Jika nilai itu kuat, teknologi akan menjadi sahabat peradaban. Namun jika nilai itu melemah, teknologi dapat bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaan manusia yang menggunakannya. Di sinilah refleksi menjadi penting. Bukan untuk menolak inovasi, tetapi untuk memastikan bahwa pendidikan tetap memimpin arah teknologi, bukan sebaliknya.
Oleh: Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)





