
Sinarpos.com -KARAWANG, JAWA BARAT – Memanfaatkan momentum peringatan hari besar Islam, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Sri Rahayu Agustina, menggelar kegiatan Dialog Rakyat sekaligus peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1445 H. Bertempat di kawasan Anjun, Kelurahan Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat, kegiatan ini menjadi ajang serap aspirasi sekaligus pembinaan mental spiritual bagi warga lokal, Minggu (25/01/2026).

Kegiatan ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan bentuk nyata kehadiran anggota legislatif di tengah masyarakat. Melalui format dialogis, Sri Rahayu merangkul ratusan jamaah, terutama ibu-ibu pengajian, untuk mendiskusikan tantangan sosial yang kian kompleks akibat perubahan zaman.
Sinergi Legislatif dan Masyarakat: Menjaga Moralitas Bangsa

Dalam sambutannya, Sri Rahayu Agustina menegaskan bahwa tugas anggota DPRD tidak hanya terbatas pada pembangunan fisik atau infrastruktur, tetapi juga pembangunan manusia seutuhnya. Tema yang diangkat, “Memperkokoh Shalat sebagai Pelabuhan Iman di Tengah Arus Digitalisasi”, dipilih untuk menjawab kekhawatiran masyarakat terhadap dampak negatif teknologi informasi.
“Melalui Dialog Rakyat ini, kami ingin mendengar langsung apa yang menjadi kegelisahan warga. Salah satu yang paling menonjol adalah kekhawatiran orang tua terhadap arus digitalisasi yang merambah hingga pelosok desa,” ujar legislator dari Fraksi Golkar tersebut.
Menurut Sri Rahayu, masyarakat saat ini hidup berdampingan antara dunia nyata dan dunia digital. Keduanya memerlukan benteng keimanan yang sama kuatnya agar tidak terjadi degradasi moral.
“Digitalisasi membawa kemudahan, tapi juga membawa hoaks dan konten negatif. Di sinilah peran shalat sebagai ‘pelabuhan’ iman kita. Shalat harus menjadi jangkar agar hati tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi di media sosial,” tambahnya di hadapan jajaran Muspika Kecamatan Karawang Barat.
Peran Strategis Ibu dalam Madrasah Digital
Sri Rahayu juga menyoroti peran sentral kaum perempuan, khususnya ibu-ibu pengajian, dalam struktur keluarga. Ia menyebutkan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak di era digital.
“Pengawasan penggunaan perangkat digital oleh generasi muda harus dimulai dari rumah dengan pendekatan nilai-nilai agama. Ibu-ibu harus melek teknologi agar bisa membimbing anak-anaknya memanfaatkan ponsel untuk hal yang produktif,” tegasnya dalam sesi dialog tersebut.
Tausiyah Ustaz Ahmad Sajili: Transformasi Shalat Menjadi Hablum Minannas
Menghadirkan penceramah utama Ustaz Ahmad Sajili Mustofa dari Dai Cahaya Hati, acara ini memberikan pencerahan mendalam mengenai hakikat Isra Miraj. Ustaz Ahmad menekankan bahwa perintah shalat lima waktu yang diterima Rasulullah SAW merupakan instrumen transformasi sosial yang sangat relevan dengan fungsi kemasyarakatan.
Ustaz Ahmad menjelaskan konsep yang sering terlupakan, yakni shalat sebagai manifestasi Hablum Minannas (hubungan harmonis antar sesama manusia). Menurutnya, shalat yang mabrur tercermin dari bagaimana seseorang memperlakukan orang lain di sekitarnya.
“Shalat memang Hablum Minallah, tapi buahnya adalah Hablum Minannas. Jika seseorang rajin bersujud namun tetap menebar fitnah di media sosial atau menyakiti tetangga, maka kualitas shalatnya perlu dipertanyakan,” tegas Ustaz Ahmad.
Lebih lanjut, ia mengaitkan etika berdigital dengan ibadah. Di era modern, implementasi Hablum Minannas kini diuji melalui ujung jari. “Orang yang shalatnya benar akan jujur dan disiplin. Ia tidak akan menyebarkan berita bohong karena ia tahu ada tanggung jawab moral kepada sesama,” jelasnya.
Sinergi Muspika dan Harapan Warga Anjun
Hadirnya jajaran Muspika Karawang Barat dalam kegiatan Dialog Rakyat ini menunjukkan sinergi kuat antara umaro (pemerintah), ulama, dan legislatif. Kehadiran unsur pimpinan kecamatan memastikan bahwa aspirasi yang muncul dalam kegiatan ini dapat dikoordinasikan dengan baik di tingkat pemerintahan daerah.
Salah seorang warga Anjun menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Sri Rahayu. “Kami berterima kasih karena Ibu Sri tidak hanya datang saat kampanye, tapi rutin mengadakan kegiatan bermanfaat seperti ini. Penjelasan tentang bijak menggunakan HP dari sisi agama sangat membantu kami para orang tua,” ungkap warga tersebut.
Membangun Jawa Barat yang Berakhlakul Karimah
Sebagai penutup kegiatan, Sri Rahayu Agustina menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan program-program yang menyeimbangkan antara kemajuan teknologi dan kematangan iman. Pembangunan di Jawa Barat, menurutnya, harus menyentuh aspek spiritualitas agar tercipta harmoni sosial yang kokoh.
Diharapkan melalui kegiatan Dialog Rakyat yang dipadukan dengan nilai keagamaan ini, masyarakat Karawang dapat menjadi filter terhadap pengaruh negatif digitalisasi. Tujuannya jelas: menciptakan individu yang tidak hanya saleh secara pribadi (Hablum Minallah), tetapi juga saleh secara sosial (Hablum Minannas).
(Iyut Ermawati)





