
SINARPOS.com, Bungo, 9 Januari 2026 — Hujan berhari-hari bukan hanya merendam rumah dan sawah, tetapi juga menghanyutkan ketenangan banyak keluarga di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Di tenda-tenda pengungsian, anak-anak terpaksa tidur berdesakan, para ibu memeluk sisa barang yang masih bisa diselamatkan, sementara para ayah menatap hamparan lumpur yang dulu adalah ladang dan persawahan mereka.
Di tengah situasi itu, kepedulian warga Bungo datang membawa harapan. Melalui Ormas, LSM, dan media SINARPOS.com yang didukung Pemerintah Daerah Bungo, rombongan bantuan kemanusiaan menjangkau daerah-daerah terdampak banjir di dua provinsi tersebut. Bukan hanya karung sembako yang dibawa, tetapi juga pesan sederhana: “Kalian tidak sendirian.”
Aksi kepedulian sosial kembali ditunjukkan masyarakat Kabupaten Bungo. Bekerja sama dengan organisasi kemasyarakatan (Ormas), LSM, serta media SINARPOS.com, dan mendapat dukungan Pemerintah Daerah Bungo, bantuan kemanusiaan berhasil disalurkan kepada warga terdampak banjir di Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Sejak 29 November hingga 31 Desember 2025, Posko 1 dan Posko 2 menjadi tempat keluar masuknya donasi masyarakat. Relawan—Laiden Sihombing di Posko 1 serta Phendos dan rekan-rekan di Posko 2—bekerja tanpa banyak kata.
Selama pengumpulan donasi, para relawan menghadapi berbagai kendala di lapangan serta dinamika komentar masyarakat.
Kendati demikian, kegiatan tetap berjalan baik sesuai visi dan misi kemanusiaan yang telah ditetapkan sejak awal pendirian posko.
Mereka mengemas bantuan, mengatasi hambatan, menjawab ragam pandangan, dan tetap bertahan karena satu alasan: ingin melihat senyum kembali di wajah para penyintas bencana.
Di dapur umum Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, Keluarga Tambunan tak mampu menahan haru saat bantuan tiba. Dari tenda pengungsian di SMA Negeri 1 Tukka, mereka mengucapkan terima kasih melalui sambungan telepon. Rumah mereka rusak, sawah hancur, tetapi kehadiran para relawan membuat keyakinan mereka kembali tumbuh: hidup masih bisa dilanjutkan.

Berbagai ungkapan terima kasih datang dari warga penerima bantuan. Bantuan yang disalurkan berupa sembako dan pakaian layak pakai kepada korban banjir dan longsor di dua provinsi tersebut.
Mereka mengaku sangat terbantu dan masih berharap adanya bantuan lanjutan, mengingat sawah, ladang, serta rumah warga banyak mengalami kerusakan berat.
Untuk wilayah Desa Garoga dan Anggoli di perbatasan Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, melalui Hasibuan selaku pengawas dapur umum dan posko sembako, disampaikan bahwa kebutuhan utama saat ini masih berupa bahan pangan pokok.
Bantuan sembako dinilai sangat mendesak untuk keberlangsungan hidup para pengungsi, sementara kebutuhan pakaian relatif telah tercukupi.

Sekelompok ibu-ibu menyampaikan kerisauan paling dalam: masa depan anak-anak. Sekolah rusak, sebagian murid harus berpindah ke lokasi sementara. Biaya transportasi meningkat. Namun mereka tetap menggenggam harapan, percaya bahwa anak-anak mereka kelak bangkit lebih kuat dari bencana ini.
Di perbatasan Tapanuli Tengah–Tapanuli Selatan itu, Hasibuan—pengawas dapur umum—bersuara pelan
“Yang kami butuhkan sekarang adalah makanan untuk bertahan.” Pakaian sudah mencukupi, namun kebutuhan sembako tetap mendesak demi menyambung hidup ratusan orang yang kini tinggal di pengungsian.” Ujarnya
Sementara itu, kelompok ibu-ibu di wilayah perbatasan juga menyampaikan harapan adanya bantuan biaya transportasi dan pendidikan bagi anak-anak.
Hal ini disebabkan sebagian siswa harus berpindah sekolah ke berbagai lokasi sementara, sambil menunggu perbaikan dan pembangunan kembali fasilitas pendidikan oleh pemerintah setempat.
Ketua Wilayah Ratu Prabu 08 Provinsi Jambi, dr. Iskandar Budiman, melalui sambungan telepon menyampaikan apresiasi atas kegiatan kemanusiaan yang telah berlangsung selama satu bulan tersebut.
Ia menilai kepedulian warga Bungo terhadap masyarakat di Sumatera Utara dan Sumatera Barat merupakan wujud nyata solidaritas sosial.
Menurutnya, semangat kemanusiaan lintas daerah, suku, ras, dan agama perlu terus dipelihara dan ditingkatkan, dengan landasan empati dan kebijaksanaan. Sebagai cermin empati warga Bungo, solidaritas terbangun merupakan energi besar yang menyatukan.
“Kemanusiaan selalu menemukan jalannya,” ungkapnya, menutup percakapan telepon.
Di balik tumpukan logistik dan daftar penerima bantuan, ada cerita-cerita kecil yang tak tercatat: tawa anak-anak ketika menerima susu dan biskuit, air mata seorang ibu yang memeluk paket beras, serta genggaman tangan relawan yang mengatakan tanpa suara, “Kami bersama kalian.”

Banjir mungkin merobohkan rumah dan jembatan, tetapi tidak merobohkan rasa saling peduli. Dari Bungo untuk Sumut dan Sumbar, bantuan itu bukan sekadar barang—ia adalah harapan yang dikirimkan.






